Kritik Ermanto Usman Sebelum Tewas di Rumahnya Bekasi, Aktivis Pelabuhan Ini Sempat Singgung Nama Pejabat Penting
--
Joinnoop.com - Kematian Ermanto Usman menjadi sorotan publik setelah pria yang dikenal sebagai aktivis buruh pelabuhan itu ditemukan tewas di rumahnya. Peristiwa tragis tersebut terjadi di kediamannya di kawasan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat. Kasus ini menarik perhatian luas karena sebelum meninggal, Ermanto sempat menyampaikan kritik keras terkait pengelolaan pelabuhan dan menyebut sejumlah nama pejabat dalam pernyataannya.
Ermanto Usman merupakan pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) yang selama bertahun-tahun dikenal aktif menyuarakan isu pekerja dan tata kelola pelabuhan. Ia juga pernah menjabat sebagai pimpinan serikat pekerja dan tetap vokal menyampaikan pendapatnya bahkan setelah pensiun dari perusahaan tersebut.
Kritik Ermanto Usman Sebelum Meninggal
Beberapa waktu sebelum ditemukan meninggal dunia, Ermanto diketahui sempat menyampaikan kritik terkait pengelolaan bisnis pelabuhan di Indonesia. Dalam salah satu diskusi publik dan podcast yang diikutinya, ia membahas persoalan perpanjangan kontrak pengelolaan terminal peti kemas yang dinilai menimbulkan kerugian negara.
Dalam pernyataan tersebut, ia menyebut sejumlah pejabat dan pihak yang dianggap memiliki keterkaitan dengan kebijakan pengelolaan pelabuhan. Ia juga menyoroti proses pengambilan keputusan yang menurutnya perlu diawasi secara transparan agar tidak merugikan negara.
Ermanto bahkan merujuk pada temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebut adanya potensi kerugian negara bernilai ratusan juta dolar akibat kesepakatan kontrak yang dianggap tidak optimal bagi kepentingan nasional.
Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di berbagai forum diskusi maupun media sosial karena dinilai berani dan terbuka. Sebagai mantan pekerja yang lama berkecimpung di sektor pelabuhan, Ermanto dianggap memiliki pemahaman mendalam mengenai industri tersebut.
Selain menyampaikan kritik terhadap kebijakan, ia juga kerap menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang transparan serta perlindungan terhadap kepentingan pekerja.
Tragedi yang menimpa Ermanto Usman terjadi pada dini hari 2 Maret 2026. Ia ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kamar rumahnya di Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Bekasi. Pada saat yang sama, istrinya Pasmilawati juga ditemukan dalam kondisi luka berat di lokasi yang sama.
Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh salah satu anak korban yang tinggal di rumah tersebut. Saat bangun untuk sahur sekitar pukul 04.00 WIB, ia merasa curiga karena orang tuanya tidak membangunkannya seperti biasanya. Ketika mencoba memeriksa kamar, pintu tidak dapat dibuka sehingga keluarga dan tetangga kemudian berusaha masuk melalui jendela.
Di dalam kamar, Ermanto ditemukan tergeletak di atas tempat tidur sementara istrinya berada di lantai dengan kondisi luka. Keduanya segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun nyawa Ermanto tidak dapat diselamatkan.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya luka akibat benturan benda tumpul pada bagian kepala korban. Aparat kepolisian kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengamankan sejumlah barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut.
Penyelidikan awal mengarah pada dugaan tindak kejahatan yang melibatkan lebih dari satu pelaku. Polisi menduga pelaku masuk ke dalam rumah melalui jendela setelah memanjat pagar kompleks perumahan yang berbatasan dengan lahan kosong di sekitar lokasi.
Beberapa barang dilaporkan hilang dari rumah korban, di antaranya kunci kendaraan, ponsel, dompet, serta perhiasan milik istrinya. Meski demikian, kendaraan dan beberapa dokumen penting masih berada di rumah sehingga penyidik belum menyimpulkan motif pasti dari kejadian tersebut.
Tim kepolisian juga menelusuri rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi. Namun proses penyelidikan tidak mudah karena minimnya saksi yang mengetahui kejadian pada dini hari tersebut.
Selain itu, anjing pelacak juga dikerahkan untuk menelusuri jejak pelaku dari lokasi kejadian hingga ke area jalan utama di sekitar kawasan Kalimalang.