Saturday 30th of May 2026

Yasinta Moiwend Tokoh Adat yang Mengaku Dijebak dan Kini Berbalik Dukung Program Pemerintah Terkait Kontroversi Film Pesta Babi

Yasinta Moiwend Tokoh Adat yang Mengaku Dijebak dan Kini Berbalik Dukung Program Pemerintah Terkait Kontroversi Film Pesta Babi

--

Mama Sinta mengutarakan kekesalannya karena merasa martabat dan harga diri masyarakat adat Malind hanya dimanfaatkan sebagai boneka oleh pembuat film demi kepentingan agenda politik tertentu. Selama enam bulan mendampingi gerakan advokasi dan bolak-balik menghadiri pertemuan di Jayapura, Makassar, hingga Jakarta, ia mengaku tidak menerima kompensasi yang layak dan hanya mendapatkan rasa lelah yang luar biasa.

Lantaran merasa dikhianati oleh pihak pendamping hukum, Yasinta Moiwend kini menyatakan telah memutus total komunikasi dengan LBH Papua Pusaka dan mendesak agar seluruh peredaran serta pemutaran film Pesta Babi segera dihentikan.

Secara mengejutkan, perubahan sikap yang drastis diperlihatkan oleh Yasinta Moiwend pasca-kontroversi produksi film ini mencuat ke publik.

Baca juga: Kisah Pilu Kakek Mujiran yang Ditahan Karena Getah Karet, Sempat Terancam 5 Tahun Penjara Kini Bebas Tanpa Syarat

Baca juga: Link Video Viral Bu Guru Bahasa Inggris Part 2 dengan Durasi Panjang, Masih Ada Part Lainnya yang Belum Kepublish?

Tokoh yang awalnya gencar memegang dokumen gugatan tata usaha negara demi melindungi hutan adat Papua dari proyek skala besar tersebut kini mendeklarasikan dukungannya secara penuh terhadap program lumbung pangan nasional (Food Estate) serta Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di Merauke. Ia bahkan memohon bantuan langsung dari jajaran pemerintah pusat agar pembangunan infrastruktur jalan, fasilitas kesehatan, dan ekonomi di kampung halamannya dapat segera direalisasikan demi kesejahteraan masyarakat lokal.

Menanggapi polemik panas yang menggelinding di ruang publik, Dandhy Laksono bersama Cypri Dale selaku sutradara film dokumenter Pesta Babi akhirnya ikut buka suara. Melalui pernyataan bersama, tim produksi mengimbau kepada khalayak luas dan para aktivis untuk menahan diri dan tidak menghakimi pilihan hidup baru yang diambil oleh Mama Sinta.

Pihak sutradara menegaskan bahwa setiap individu, termasuk masyarakat adat di pedalaman Papua, memiliki hak penuh untuk menentukan arah perjuangan dan pilihan politiknya sendiri tanpa harus diintervensi oleh pandangan pihak luar.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST