Yasinta Moiwend Tokoh Adat Papua Kini Bongkar Skenario Film Pesta Babi yang Ternyata Merugikan, Mengaku Ditipu Salah Satu Aktivis
--
JOINNOOP - Sosok tokoh perempuan adat sekaligus pejuang lingkungan asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Sinta, kini tengah menjadi pusat perhatian publik nasional.
Hal ini terjadi setelah dirinya melayangkan protes keras dan menyatakan penyesalan mendalam atas kemunculan wajah serta suaranya di dalam film dokumenter investigatif berjudul "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita".
ilm karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale tersebut mengeksplorasi penolakan masyarakat adat terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan (Food Estate) di Papua Selatan.
Melalui unggahan video klarifikasi yang viral di berbagai platform media sosial, Yasinta Moiwend secara emosional menegaskan bahwa dirinya merasa dibohongi dan dijebak oleh pihak pendamping hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pusaka. Mama Sinta mengeklaim tidak pernah memberikan persetujuan resmi, baik lisan maupun tertulis, untuk dijadikan subjek utama perfilman komersial ataupun diwawancarai secara khusus mengenai judul tersebut.
Ia menceritakan bahwa pada awalnya, sekitar April 2026, dirinya hanya diajak oleh perwakilan LBH untuk mendokumentasikan tradisi adat, budaya, dan ketahanan pangan lokal di wilayah Wamena, yang ternyata obrolannya direkam dan dipotong secara sepihak tanpa sepengetahuannya.
Kekecewaan mendalam dirasakan oleh Mama Sinta karena dirinya merasa hanya dimanfaatkan sebagai alat propaganda politik oleh kelompok tertentu untuk menyerang kebijakan pembangunan pemerintah. Selama enam bulan aktif mendampingi gerakan advokasi dan harus melakukan perjalanan melelahkan lintas kota dari Jayapura, Makassar, hingga Jakarta, ia mengaku hanya mendapatkan kompensasi materi yang sangat minim dan rasa lelah yang luar biasa.